Pages

Rabu, 14 Mei 2014

i challenge myself (part 1)

Sejak berkeluarga, prioritas utamaku jelas sekali bergeser ya. Dulu jaman masih gadis, disuruh dinas kemana aja hayok. Mau berapa lamapun juga hayok. Sejak punya suami, dinas masih dilakoni tapi sering kepikiran mulu dengan suami. Nah apalagi udah punya anak, aku malah bener-bener menolak dinas.

Sebenarnya anak dan suami bukan halangan, cuma akunya yang lebih memilih untuk ga mau dinas. Apalagi kerjaanku kan di bagian umum yang notabene emang lebih banyak ngurusin intern kantor. Jadi kalau ada dinas pun, aku lebih memilih untuk ngerjain kerjaannya di kantor trus hasilnya ku email ke temen yang ada di lokasi. Hehe… win win solution kan ya?

Tapi lama-lama kok berasa juga jenuhnya. Kemaren-kemaren masih bisa disiasati dengan ikut tim penilaian. Ini salah satu pelampiasan yang menyenangkan. Walaupun capek, aku sangat menyukai penilaian (mungkin karena sesuai background? atau sekedar seneng karena bisa keluar kantor?entahlah). Ke lapangan, cek lokasi, ukur sana sini, cari data pembanding dan bikin laporan. Err..bagian bikin laporannya sih agak males juga.  Dan setelah laporan jadi, diuji di depan teman-teman sesama penilai. Lumayan banget bisa bikin kerjaanku yang “gitu-gitu” aja jadi sedikit berwarna.

Trus setelah itu mikir, abis ini apalagi? Actually, ngiler juga pengen lanjutin kuliah, ke LN klo perlu (mewujudkan cita-cita yang selama ini terpendam). Tapi, kendalanya banyak bok. Dan udah pasti ga bisa dilakukan sampai beberapa tahun ke depan (terima kasih ya PMK 148/2012). Oleh karena itu, ketika pagi ini ada tawaran untuk mengajar, aku langsung ngomong, “oke, saya coba”. Setelahnya langsung mules mikirin apa yang mau diajarin ini? Bahannya mana? Bikin bahan ajar dulu kan ya? Terus kalau mereka ga ngerti penjelasanku gimana? Yang diajarin tentang aplikasi lagi. Baguus.. ini nih akibat ngomong dulu baru mikir.


Hah..doakan aku berhasil ya. Semoga aja pesertanya ga boring dan bisa paham penjelasan dari mentor abal-abal ini. 

apakah aku akan menjadi mentor seperti ini? may be.. 

Kamis, 08 Mei 2014

Two Years

Dua tahun sudah dirimu menemani kehidupan kami, nak
Dua tahun juga dirimu memberikan banyak pelajaran berarti buat kami
Dua tahun dirimu menerima kami,
Orang tuamu yang bahkan tidak tahu apakah kami telah menjadi orang tua yang terbaik bagi dirimu?
Apakah kami telah memiliki cukup ilmu untuk membimbingmu?
Apakah kami telah membekali dirimu dengan semua kebajikan dan ilmu yang berguna ?
Dan orang tua yang bahkan terus menerus berdoa agar kami bisa menjadi panutan terbaik dalam hidupmu

Tahukah engkau anakku, di sore hari ketika ayah dan bunda pulang dari kantor
Dengan hati yang sedang kacau karena banyaknya hal-hal yang terjadi di luar harapan kami,
Ketika kami sampai di rumah, melihatmu menyambut kami dengan berlari dan bertepuk tangan,
Merentangkan tanganmu untuk meminta pelukan dan ciuman,
Di saat itu, hati kami langsung menghangat
Kebahagiaan yang engkau berikan bahkan membuat kami lupa kalau hari yang kami lewati begitu melelahkan

Ketika pagi hari, di saat kami harus berangkat ke kantor diiringi dengan senyumanmu, kepahamanmu atas kondisi kami yang harus meninggalkanmu,
Kami berterima kasih, anakku.
Ketika dirimu begitu kuat dan tegar sedari di dalam kandungan bahkan sampai saat ini,
Kami berterima kasih, sayang.

Kami berterima kasih karena engkau menjawab doa kami
Doa yang kami panjatkan dalam masa penantian kami menunggumu
Bunda masih mengingat doanya nak,
Ketika itu bunda terlalu merindukanmu,
Bunda tahu bahwa engkau senang berada di atas sana
Engkau mungkin takut untuk datang ke dunia yang kejam ini
Dunia yang memang fana ini, yang kesenangannya pun mungkin tidak bisa dibandingkan dengan setitik debu dibandingkan kesenangan berada bersama para malaikat di surga
Tetapi bunda dan ayah merindukanmu, nak
Merindukan kehadiranmu di sisi kami
Dan terima kasih karena engkau mau mendengar dan hadir disini
Kami berjanji untuk berusaha keras menjadi orang tua yang baik untukmu

Akan tetapi, kami tidaklah sepenuhnya benar
Ketika kami mulai kehilangan kesabaran,
Ketika kami melakukan hal yang salah,
Atau ketika kami sedang tidak bisa menjadi contoh yang patut untukmu
Tolong  maafkan kami, nak.
Satu yang harus selalu dirimu ingat, kami selalu menyayangimu.
Kami selalu mendoakan yang terbaik untukmu
Dan kami selalu berharap bahwa engkau, permata hati kami,
Dapat menjadi anak yang soleh, selalu sehat, cerdas dan berbahagia di setiap harimu.



We love you, son. So Much.

Senin, 21 April 2014

tentang membaca

Aku tipe yang suka membaca. Tapi berlakunya cuma untuk baca komik, novel dan buku yang menarik perhatian aja. Yang lain, ogah. Haha.. nah waktu hamil, malah jadi jarang baca karena kalau baca, suka kelupaan istirahat. Bablas sampe malem baca buku. Penasaran banget sama akhirnya. Aku juga males baca buku yang detail banget. Jadi kalau  ada orang yang terkagum-kagum dengan penggambaran cerita yang dibuat detail, kalau aku malah biasanya langsung kulompat. Makanya sering ketinggalan juga hal-hal penting di bukunya. Maklum, aku kan males berimajinasi ya.

Entah kebetulan atau ga, kayaknya hal ini menurun ke haziq. haziq setiap aku bacain buku, kalau aku kelamaan dikit cerita di suatu bagian, dia pasti langsung minta skip ke bagian berikutnya,. duuh nak,, kamu tau ga kalau bunda sebenernya pengen mengembangkan imajinasimu? jangan kayak bundamu ini yang miskin ide gara-gara ga suka hal-hal detil di buku :(

Karena dulu waktu kecil, jarang banget dibeliin buku. Jadi sekarang malah semacam obsesi pengen ngumpulin buku yang bagus-bagus buat haziq. Sampe sempet ikutan arisan buku keluaran m*zan yang harganya juta demi  memuaskan hasrat (emaknya). Tapi lagi-lagi karena keterbatasan pengetahuan, akhirnya aku malah banyak nanya ke temen-temen judul buku yang oke buat haziq. Dulu kan aku bacanya 5 sekawan atau kalo ga, Mallory towers. Nah, kalau sekarang aku beliin haziq buku kayak gini, yang ada dilengosin sama anaknya. Hihi..

Haziq sukanya baca buku yang banyak gambarnya. Jadi biasanya emaknya mengarang spontan. Karena ada gambar yang ga dia suka, jadi langsung skip. Suka-sukanya haziq aja buka halaman berapa. Makanya walaupun bukunya sama, ceritanya pasti jadinya beda-beda karena halaman yang dibuka selalu ga urut. Akhir-akhir ini, keliatan banget haziq udah bosan dengan koleksi bukunya (yang sedikit) di rumah. Dulu antusias banget kalau diajakin baca. Sekarang ditoleh juga ga. Apalagi koleksi H*L* B*LITA yang malah ga disentuh karena haziq kurang tertarik. Haziq cuma suka beberapa judul aja. Sisanya ga mau (emaknya nangis miris liat bukunya cuma teronggok di pojokan)

buku-buku kesukaan haziq
buku h*l* b*lita yang dijadikan pijakan sama haziq
selalu antusias tiap baca bobo (psst,,ayah dan bundanya juga sering ikutan nimbrung baca)

Untungnya, sabtu kemaren ada yang nganterin paket. Waktu dibuka ternyata buku dari tante sondang. Aih.. bukunya cakep-cakep. Terus yang paling bikin terharu, ada note dari tante sondang buat haziq. Makasih bukunya ya tante dan makasih doanya juga. Semoga haziq semakin suka baca buku J

Setelah itu, buru-buru dibuka semuanya trus langsung dibaca oleh emaknya. Haziqnya sih masih sibuk maen. hihi.. setelah kubaca bukunya, wiih bagus-bagus ceritanya dan pas. Ga terlalu sedikit atau kebanyakan buat haziq. Gambarnya pun bagus-bagus. Buku-buku ini terbitan erlangga for kids. Aku liat di halaman belakangnya sih ada 8 buku untuk seri ini. Dan aku mau lengkapin semua serinya.  Yippie..
ini dia buku-bukunya udah sampe dari tante sondang
notes yang buat emaknya ngomong, aamiin aamiin dan aamiin

Pas banget, malemnya mati lampu. Jadi mati gaya kan anaknya mau ngapain. Di luar juga lagi hujan deras jadi ga bisa kemana-mana. Akhirnya kami main di kamar dan aku bacain buku kado dari tante sondang. Eh, anaknya ternyata seneng banget. Dan ada satu buku yang jadi favoritnya haziq. Buku ini haziq sampe minta dibacain berulang-ulang sampe suara bundanya serak. Hahay..bangun tidur juga yang pertama dicari buku ini dan langsung minta dibacain lagi. 
buku favorit saat ini
mengutip kata tante Sondang, 

Semoga (haziq) suka membaca nantinya. karena dari dulu dan sampe sekarang membaca membuka jendela dunia. dan setelah suka membaca, semoga kamu akan suka menulis untuk berbagi pada orang lain. dan tante (ayah serta bunda) yakin, di jamanmu nanti kamu akan jadi jawaban buat generasimu. amin.

Rabu, 16 April 2014

nasib kaki besar

Siapa yang bermasalah dengan ukuran sepatu?

Kakiku ini jenis kaki yang masuk kategori kaki bebek. Udah besar, di bagian jarinya melebar (kayak bebek), dan ukuran tiap kaki beda. Kaki kananku lebih besar dari kaki kiri. Bikin keki pokoknya kalau disuruh beli sepatu. Cari sepatu yang pas di kaki ibarat mencari jarum di tumpukan jerami. Susah bok!
Dari jaman SMP, udah mulai sadar kok kaki ini ukurannya besar ya dibanding temen-temen. Size kakiku 40 nyaris 41. Waktu SMA malah pake sepatu kets ukuran 42 saking mumetnya pilih sepatu yang pas. Walhasil emang ga matching sih. Badan kecil tapi sepatunya big size. Haha..

Karena ukuran kaki yang besar ini menyebabkan aku ga bisa sembarangan beli sepatu. Apalagi sepatu murah meriah harga 40 ribu yang suka ada di ITC dan bentuknya lucu-lucu itu. Udah pake ukuran terbesar pun, teteup ga muat.  Padahal waktu aku magang dulu (yang digaji Negara cuma 850ribu sebulan), membuat ga bisa bebas gonta ganti sepatu. Apalagi dulu itu kan masih muda ya. Masih suka-sukanya menyesuaikan sepatu dengan baju serta tas buat kantor (sok matching ceritanya). Makanya dulu dongkol banget kalau temen-temen bisa gonta ganti sepatu dengan modal irit, 40 ribu. Aku? Harus ke mall dulu, cari sepatu diskonan (yang tentunya bernomor besar) dan kira-kira yang akan tahan lama. Nah nyari yang model kayak gini, biasanya harus tekun berkunjung dan sabar karena jarang ada. Hish..

Waktu kuliah, setiap pulang ke Palembang aku pasti beli sepatu. Sampe mamaku heran, masa tiap pulkam kerjaannya cari sepatu mulu. Lagian menurut mamaku, Jakarta lebih komplit kok malah beli yang di Palembang. Ah,,mamaku ini ga tahu aja kalau itu modus biar sepatunya dibayarin. Haha.. abisnya sepatu-sepatu itu masa manfaatnya sebentar banget. Udah paling hebat lah klo satu sepatu bisa bertahan sampe 6 bulan. Ga tahu deh gimana cara aku pakenya, pokoknya sepatu-sepatu ku ga pernah bertahan lama. Saking mamaku penasarannya, aku pernah diajak ke butik di Palembang. Disuruh beli sepatu dengan harga yang “agak” mahal dari biasanya, maksudnya sih biar tahan lama. Ternyata umurnya cuma 3 bulan saja. Kapok…

Kalau dulu milih sepatu masih nyari yang lucu dan feminim, rasa sakit jadi nomor dua -- karena biasanya yang lucu dan feminim bikin kakiku sakit dan lecet. Setelah punya anak, kenyamanan nomor satu. Bentuk dan model, bodo amat. Sekarang pilihan jatuhnya ke kickers. Tapi entah kenapa, kucingku hobi banget cakar-cakarin sepatuku yang ini. Walhasil, sol dalam sepatunya hancur lebur kena cakaran.
 
hasil kreasi mimi yang berkolaborasi dengan kitty
Tuh keliatan kan parahnya sepatuku gara-gara tiap hari dicakarin mulu. Lagian dengan harga sepatu segitu, aku berharap sepatu ini bisa bertahan lama. Tapi ternyata nasibnya cuma bisa bertahan sampe setahun aja   
--lebih baik sih dari yang lain tapi aku berharap kamu bisa bertahan at least 2 tahun gitu kers!#medit.

Tapi emang iya, kalau dipikir-pikir dulu waktu masih gadis, hobi banget beli tas dan sepatu mahal (ukuran mahalnya sih masih ratusan ribu lah ya. Ga sanggup beli juta-juta). Sejak married dan punya anak, malah sepatu dan tas jadi nomor ke sekian. Dulu masih seneng matchingin warna tas dan sepatu sama baju yang dipake. Sekarang mah boro-boro. Pokoknya  tas dan sepatu yang dipake itu-itu aja. Hihi.. apalagi sekarang berasa banget pelitnya. Liat sepatu harganya udah 400-an ke atas, langsung melipir. Walaupun harga ga bisa bohong juga ya. Buktinya si kickers emang lebih nyaman dipake dibanding sepatu yang selama ini dibeli.

Untuk sandal, lebih serampangan lagi. Pilihanku malah jatuh ke sandal crocs atau sandal yang modelnya besar dan nyaman (biar awet). Lagi-lagi model menjadi pilihan nomor sekian.

sandal pilihanku yang modelnya gini. mantap jaya kalau dipake :)
foto dari sini
Jadi gimana pilihan kalian buat sepatu dan sandal? kalau ada yang bisa rekomendasiin alas kaki murah meriah, tahan lama, dan nyaman, akan sangat membantu lho! :)

Jumat, 21 Maret 2014

menahan diri

menahan diri ini adalah ilmu yang paling susah setelah ikhlas. beneran deh. udah pernah nyobain dan ga tahan. itu juga salah satu sebab kenapa blog ini menjadi aktif kembali.

dulu, zaman pake friendster masih euforia dengan social media. apalagi waktu kenal friendster, umur juga lagi labil-labilnya. pokoknya semua foto yang paling bagus, lagi apa, dimana, dibuka blak-blakan di friendster sana. terus aku juga aktif menggunakan notes di friendster sebagai diary. efeknya, banyak yang invite dan ngajak kenalan. ya salah satunya pak suami (eh salah ya, yg ini aku yg invite suami duluan. hihi..). semua pertemananpun diiyakan. yg komen dan inbox dibalesin satu-satu. rajin ya? (rajin apa kurang kerjaan) termasuk inbox pak suami dulu yg ngajak kenalan dan langsung ngajak nikah (bener-bener deh. kalau ada yang bilang jodoh dari internet, aku dan suami satu contoh nyatanya)

terus dari friendster beralih ke facebook. cukup lama juga pake facebook ini dari 2008 sampe sekarang (hah sekarang masih pake facebook? iyes, sampe skrg masih rajin fb-an). awalnya sama kayak friendster, semua diapprove. semua dikomenin. dikit-dikit bikin status dan dikit-dikit upload foto. cuma semakin kesini, kok mulai kerasa ya efek negatifnya.

awalnya dari sering-sering blogwalking dan baca si blogger A perang di socmed dengan blogger B gara-gara apa gitu. terus jadi ikutan kepo, ngintipin socmed mereka. baca lagi sana sini, akhirnya nemu kesimpulan, dua orang ini ga saling kenal, ketemu di dunia maya, tapi perangnya kayak udah musuhan dari jaman dulu kala. terus ditambah lagi dengan status-status temen yang suka pake hashtag "nomention". apa ini,  maksudnya nyindir? kenapa? dan akhirnya saling perang dengan hashtag "nomention" tadi.

pernah ga aku dimusuhin lewat dunmay? pernah bok. bahkan pernah dibikinin satu tulisan khusus untuk nyindir aku. terus kesindir ga vi? enggak dong. orang akunya gaptek. belum ngerti kalau tulisan dan no mention tadi buat nyindir (huw..cupu). jadi baca tulisan orangnya, cuma senyum-senyum sambil mikir, ih kok mirip aku ya? haha... untung deh ya enggak ngerti kalau maksudnya nyindir. coba kalau ngerti, kukirim kapal selam sama roket deh ke orangnya. haha... (red-kapal selam dan roket di palembang itu nama makanan)

dulu, aku punya temen yang dikit-dikit update status hana hini hitu. berikut foto-fotonya lengkap. masih kurang, foursquare sekalian biar tau lokasinya dimana. awalnya sih seneng ya. apalagi yg diupdate tentang kehamilan setelah itu anaknya. waktu itu, aku sedang dalam masa penantian biar bisa hamil. dan yang terjadi adalah setiap dia update status, share foto tentang perutnya yang semakin gede dan foto anaknya yg udah lahir, aku sediih dong. sedihnya karena mupeng kakak.. eh ternyata bukan aku doang yang merasa gitu. salah satu temen yang belum hamil-hamil setelah bertahun nikah juga merasakan hal yang sama. yg ada malah aku dan si temen, jadi chatting sambil meratapi nasib. keliatan kan ya salah satu efeknya?

belum lagi kejahatan yang semakin berkembang. pernah baca dimana gitu, kalau penjahat sekarang mengintai lewat facebook juga. jadi dia tau muka kita, kerja dimana, rumah dimana, anak siapa, dan semua data dikumpulin jadi satu dan dibuat sebagai modus kejahatan. apalagi pernah liat temen sendiri, jadi teraniaya di dunia maya karena facebooknya disadap dan foto-fotonya diedit terus disebar ke situs yang ga senonoh. aku yang liat aja udah malu. gimana dengan temenku itu. walaupun beberapa maklum tapi kita kan ga tau ya pikiran orang.

akhirnya sejak kejadian itu, aku memutuskan bahwa ga semua hal bisa di share ke socmed (facebook terutama) karena begitu banyak mata yang mengintai dan kita ga pernah tahu, apakah yang kita upload atau share membuat semuanya merasa nyaman dan membuat diri dan keluarga kita aman. tapi dasar emang susah, kadang suka ga tahan juga buat upload foto terbaru atau status. cuma sekarang udah usaha banget diminimalisasi. jadinya sekarang memilih memakai facebook sebagai pengamat atau masuk dalam grup yang bermanfaat contohnya grup masak atau grup parenting.

dan akhirnya, aku memilih menumpahkan semua unek-unek ke blog ini. makanya blognya jadi aktif lagi sekarang. walaupun untuk pemilihan topik, tetap dipilih topik teraman. kalaupun ada keluh kesah (banyak kalee...), itu adalah keluh kesah yang sudah tak tertahankan lagi. hehe..



Jumat, 14 Maret 2014

transformasi gaya



Keputusan berjilbab yang kuambil waktu aku tingkat 1 kuliah dulu, aku rasa adalah keputusan paling fenomenal yang pernah kuambil.  Datang ke Jakarta dengan memboyong begitu banyak celana pendek dan T shirt (yes,, segitu tomboynya aku dulu). waktu smp-sma seringnya jalan kemana-mana cuma celana pendek, t shirt dan sandal jepit. sampe dulu pernah ditegur guru waktu ketemu di mall, dia bilang aku kayak korban banjir karena pake celana pendek. haha...trus ga nyampe satu minggu kuliah, langsung pake jilbab. kalau dipikir-pikir ya bisa dibilang nekat. Tapi emang ngambil keputusannya ga pake mikir kok. Kepengen, langsung pergi ke blok M sama temen sampe malem, beli jilbab dan  baju tangan panjang 2 biji.  Besoknya langsung pake. pokoknya kilat banget, semua temen aja langsung bengong liatnya. Hihi..


Awal pake, heboh. Tiap menit, ngaca. Tiap menit benerin jilbab. Sampe temen cowok yang duduk di belakang pada risih liat aku kayak gitu. Abisnya masih belum pede pake tapi ga mungkin dilepas juga kan? *minta digetok.  Waktu awal berjilbab, aku selalu dideketin sama senior. Lebih karena didorong biar ikut pengajian. Akhirnya ikut? Oh tentu saja iya. Tapi itu karena terjebak sodara-sodara. Jadi acaranya dikemas dengan bikin jalan-jalan ke puncak. Aku pikir itu acara jalan-jalan. Daftar dong. Ga taunya sampe sana malah dibentuk grup liqo’ trus ngaji. Mana jalan-jalannya??? Abis itu menyesal. Huhu.. abis acara, aku pikir beres. Eh taunya dikejar senior suruh ikutan ngaji tiap minggu. Karena dulu masih takut-takut, akhirnya ikutan walau terpaksa. Apakah itu bikin aku sadar? Enggak tuh. Hura-hura tetap jalan. Baju yang kupake, celana jeans ketat dan jilbab seleher yang bikin aku dipelototin terus sama mentor.
waktu kuliah.baju kaos, jeans dan jilbab seleher

Tingkat 2 lebih kacau malah grup liqo’ aku tinggal begitu aja. Alasannya males. Begitu terus sampe tamat kuliah. Mulai kerja, baju yang dipilih adalah baju kemeja slim fit dengan celana ditambah sepatu high heels.  Jilbab pilihan adalah jilbab dari bahan paris yang warnanya banyak banget. Jadi enak mix and match dengan baju. Selain itu, harganya murmer. 10 ribu aja kakak. Cocoklah buat yang baru magang kayak aku.  Dulu kan punya temen se-geng. Nah temenku itu, bajunya selalu pake yang panjangnya sepaha. Dipadu celana. Trus jilbabnya yang dililit leher. Cantik dan rapi keliatannya. Sempet nyaranin aku ikutan beli baju dan berjilbab kayak dia. Tapi aku masih cinta kemeja pendek slim fit ini dan lagian dulu kesannya ibu-ibu sekali (maaf ga bermaksud nyinggung ya).


Setelah ketemu (calon) suami, mulai deh aku dibawelin masalah baju. Dia ga suka, aku pake baju kemeja yang cuma sebatas pinggang gitu. Katanya kalau aku duduk atau gimana, takutnya keliatan. Disuruh pake baju yang panjangnya minimal nutup bokong lah. Yo wis, namapun cinta. Diturutin deh.  Ternyata pilihan baju, ngaruh ke gaya berjilbab. Awalnya masih suka jilbabnya dililitin ke leher. Sekarang sukanya yang agak nutupin dada (walaupun kadang masih dililit juga). Pilihan bergo pun mulai memanjang. Dari seleher, udah mulai sedada. Sampe-sampe aku dulu dibilangin embok-embok sama temen kantor. 
waktu awal ngantor
  Apalagi abis nikah, udah deh semua baju pendek berganti dengan yang panjang.  Tapi masih bercelana dan lilit jilbab sana sini (walaupun udah mulai berasa risih plus dipelototin suami) hihi.. dan aku inget banget waktu pertama kali pindah kantor ke palembang. Disini aku udah hamil 2 bulan dan masih pake celana. Nah, kakiku kan cacat ya bentuk O. tapi ga ketara banget. Jadi kesannya kalau jalan, aku kayak jalan gaya preman gitu deh. Dan itu jadi pembicaraan bapak-bapak di kantor sampe ada salah satunya konfimasi ke aku, kenapa kok jalanku gitu. Setelah aku jelaskan, mereka bisa mengerti. Tapi enggak dengan aku. Aku jadi sadar bahwa disini orang-orang memperhatikan sampe segitunya. Demi keamanan diri, akhirnya memutuskan pake rok aja. dan ternyata enak banget ya pake rok. adem gitu. hihi.. sekarang jadi kemana-mana pake rok kecuali aku lagi diajak dinas penilaian yang mana klo dinas ini kan agak susah ya klo pake rok. pernah sekali saltum pake rok waktu dinas penilaian, akhirnya roknya diangkat-angkat (untung pake daleman celana panjang) karena harus masuk ke sawah dan tinjau kuburan. 

dan akibat sekarang sering pake rok dan baju panjang serta sesekali bergamis (yang mana sering mengakibatkan ledekan "ibu-ibu pengajian" dari temen kantor), risih sendiri klo jilbabnya masih pendek. akhirnya sekalian aja dipanjangin (baru sebatas pinggang kok. belom panjang banget). kalau lagi kumat centilnya, ke kantor pake pashmina tapi gayanya tetap dipanjangkan dan anti ribet (alesan padahal emang ga bisa ngikutin gaya pashmina para jilbabers). pengen juga tampil cantik macem desainer kesayangan aku, ghaida tsurayya. suka banget liat gayanya kalau pake baju. manis dan anggun.

tapi apa daya, kadang kalau pergi-pergi asal comot aja baju yang letaknya paling atas. ribet kalau mau cari-cari. ada anak kecil yang tiap mau pergi selalu ga sabaran dan selalu langsung tarik baju emak bapaknya dari lemari. baju yang ditarik juga harus kami pake. klo ga dipake ngambek. ampun deh nak. jadi jangan heran kalau seringnya aku dan suami bajunya ga nyambung dari atas ke bawah.

ps : yang sekarang belum ada fotonya ternyata. baru sadar isi foto di kamera cm anak dan suami.

Rabu, 12 Maret 2014

KDRT

Seorang teman mengalami KDRT di usia rumah tangganya yang bahkan belum seumur jagung dan sedang hamil muda, oh dan lebih buruknya itu dilakukan hampir setiap hari oleh suaminya. entah aku harus merasa tersanjung atau malah tertekan karena temanku ini hanya mempercayai aku untuk menceritakan semua yang dialaminya.

ketika temenku ini cerita, sejujurnya aku malah ga nyaman karena aku terlampau ngeri untuk membayangkannya dan bingung untuk memberikan reaksi apa. yang aku lakukan hanya mendengar dan memberi saran yang sebenarnya useless, contohnya : kamu harus tetap makan! (ga nyambung) atau kamu mau minum jus? (lebih ga nyambung). aku coba memberikan saran yang agak ekstrim semisal, laporkan ke polisi atau bercerai (tau sih ini emang bukan hakku untuk ngomong ini tapi aku terlampau kasihan) tapi semua itu ga pernah digubris.

akhir-akhir ini aku merasa aku jadi ikut-ikutan gelisah apalagi tiap liat dia mulai nangis sesenggukan di mejanya (ini alarm klo dia tadi di rumah pasti abis berantem dan dipukuli). ada yang tau apa yang harus aku lakukan sekarang biar bisa memberi solusi terbaik untuk temanku ini?